#HagalaBuku

#HagalaBuku2
Desa Moa, Kabupaten Sigi

MENYUSURI PEDALAMAN MOA

ADA beberapa alasan mengapa Moa dipilih sebagai lokasi kedua #HagalaBuku setelah Lalong di Banggai Laut. Alasan pertama adalah sejarah kampung itu. Sebuah foto koleksi KITLV Leiden, Belanda, mempublikasikan rumah adat yang terletak di Moa. Foto itu berjudul Inheemse woning te Moa (Rumah adat Moa) yang diabadikan oleh Anton Abraham Cense pada tahun 1937. Heri (26 tahun) anak Kepala Desa Moa, mengatakan (01/10), besar kemungkinan lokasi foto tua itu hari ini letaknya di Boku, pemukiman awal orang Moa yang jaraknya 6 km ke arah timur dari pemukiman yang sekarang. Cense menyusuri dan mengabadikan dua kampung terdekat dari Moa yakni Tuare dan Kageroa, dua kampung yang saat ini berada di dalam wilayah Kabupaten Poso.

8540

Moa adalah desa di ujung selatan Kabupaten Sigi dan karenanya menjadi batas kabupaten itu dengan Kabupaten Poso. Jarak Moa dari ibukota Kecamatan Kulawi Selatan di Lawua Gimpu adalah 25 km dengan rata-rata lama tempuh selama 4 jam. Lama tempuh dari jarak yang sebenarnya tidak begitu jauh itu dikarenakan Moa hanya bisa diakses oleh kendaraan roda dua. Kuda besi, kata warga di sana. Sebelumnya, menempuh Moa dan beberapa desa dan dusun di sebagian besar wilayah di Kulawi dan Lembah Bada, alat transportasi yang digunakan adalah dengan menunggang kuda.

img-20161001-wa0036

Waktu tempuh dipangkas oleh ojek yang sudah terbiasa melewati jalan tanah yang sempit dan becek, batu-batu besar, kerikil, dan longsoran-longsoran curam yang berhadapan langsung ke arus deras Sungai Lariang. Para ojek yang tanpa pengaman menggabungkan ‘kenakalan’ Valentino Rossi dan teknik crosser legendaris Johnny Pranata. Motor-motor bebek dimodifikasi sedemikian rupa untuk keperluan pengangkutan. Ban bergigi, gear belakang besar, tanpa rem belakang, lengkap dengan tali karet buatan dari ban dalam bekas yang digunting panjang untuk mengikat barang bawaan. Sekali angkut dari Gimpu jasa ojek Moa Rp. 150 ribu. Berbeda dengan ojek yang tinggal di Gimpu yang mematok tarif ke Moa hingga Rp. 300 ribu. Untuk soal angkutan ini, sebaiknya tidak menggunakan motor matik!

img_1466

Tak kau temukan Moa di peta atau rupabumi Google. Desa yang menjadi poros Gimpu – Bada yang bisa hingga ke Danau Poso di Tentena itu tak dijangkau sinyal untuk telepon seluler. Pun PLN. Listrik dihasilkan dari panel solar dan pembangkit mikrohidro yang sedang tidak bisa beroperasi karena rusak. Beberapa rumah menyediakan genset. Dan ada 118 kepala keluarga yang tinggal di desa itu, yang total jumlah penduduknya ada sekira 400 jiwa. Banyak anak-anak, perempuan, ibu-ibu hamil, dan lansia. Ada 1 taman kanak-kanak sekaligus pendidikan anak usia dini, satu sekolah dasar, dan gereja Bala Keselamatan. Anak-anak yang akan melanjutkan pendidikannya mesti hijrah ke ibukota kecamatan. Ini satu soal yang menurut Melvin Sawedu, bidan desa itu, yang membuat banyak yang tidak melanjutkan pendidikannya. Anak-anak Moa yang putus sekolah pulang ke desanya membantu orangtua mereka berkebun coklat, padi ladang, menanam kopi, mendulang emas di bantaran Sungai Lariang, atau menghanyutkan diri di arus deras Sungai Lariang bersama rotan hingga ke muara tempat rotan ditimbang dan dibeli pengumpul.

20160930_154903

Pertimbangan kedua adalah Melvin Sawedu dan Heri. Melvin adalah bidan Desa Moa, Heri adalah pemuda yang tinggal di sana. Sebelum mengabdi setelah lulus dari akademi kebidanan untuk mencari pengalaman kerja, Melvin adalah anggota Perpustakaan Mini Nemu Buku. Saat ini Melvin yang berdarah Sangir – Jawa itu adalah bidan dengan status pegawai tidak tetap (ptt) Kementerian Kesehatan. Sulit rasanya menemukan anak muda yang sudah terbiasa hidup di kota kemudian memilih bekerja di desa.

Simbiosis mutual. Melvin bertemu Heri, sarjana jurusan Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Politik, Universitas Tadulako, Palu. Ayah Heri adalah Kepala Desa Moa. Pertemuan muda-mudi yang tidak saja mengurusi warga, tetapi juga jalinan kisah kasih asmara. Heri telah punya pengalaman melakukan kerja-kerja pemberdayaan. Di tengah proses penyusunan skripsinya tentang pendidikan alternatif, Heri diterima bersama relawan dari daerah yang lain, selama satu tahun setengah hidup bersama Suku Anak Dalam dan Butet Manurung di wilayah pedalaman di Provinsi Jambi.

Jadilah rumah tinggal mereka di desa itu sebagai tempat bertemu warga, selain rumah adat Lobo Kahintuwua yang artinya kebersamaan, dan Gedung, sebutan untuk bangunan semi permanen yang digunakan untuk musyawarah desa. Dari yang ingin bertemu kepala desa -mereka menyebut Papa Angel (nama orangtua diambil dari nama anak tertua), hingga yang ingin pemeriksaan kesehatan: pemberian obat, tensi darah, timbang badan, posyandu, dan persalinan. Pasien yang sakit parah dan harus dirujuk ke puskesmas di ibukota kecamatan di Gimpu mesti ditandu. Keluarga dan warga desa bergantian memikul tandu berjalan kaki selama 8 jam.

20160930_174034

#HagalaBuku menjadikan rumah mereka itu sekarang bertambah alasannya untuk jadi ramai, khususnya anak-anak dan remaja. Menjadi rumah baca.

img_1661

Perpustakaan Mini Nemu Buku

Jalan Tanjung Tururuka No. 27 Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah

Akses katalog daring Perpustakaan Mini Nemu Buku, KLIK DI SINI

Copyright © 2016 Nemu Buku | The Mag Theme by MVP Themes | Wordpress.

To Top